Percakapan Alam
beribu bintang bertaburan di langit malam. bulan terdiam memerhatikan keramaian kota. hiruk pikuk yang tak pernah lelah menjajakkan dirinya di bumi pertiwi. tiap sudut kota tak bergeming dengan kesibukan masing-masing. malam kian larut. namun, kesibukan di bumi pertiwi masih bersenandung dengan pekatnya malam. bulan terdiam. menatap pekat malam bumi pertiwi. aku heran dengan orang-orang di bumi. tidakkah kalian merasa lelah? kalian menghabiskan semua waktu untuk benda bernama uang. huh! bulan mulai menggerutu. angin malam yang berhembus kala itu tetap membuat orang-orang disekitarnya tak bergeming. seolah, angin tak pernah hadir malam itu.
kini tugas bulan telah usai. ia harus beristirahat. raja siang menggantikannya bertugas. raja siang pun menyapa para penduduk bumi dengan senyuman hangat. seseorang mulai mengeluhkan sinar raja siang. mereka lebih menginginkan bulan yang tersenyum dingin hai! kalian tidak tahu kalau aku tidak ada kalian tidak bisa menjemur pakaian busuk kalian. gerutu sang raja siang. sebagian orang tak menginginkannya, namun banyak yang merindukan senyum hangatnya. raja siang kembali memerhatikan hirik pikuk tiap sudut kota. gila! pikirnya. terbuat dari apa otak mereka, mau saja diperbudak uang. matahari heran.
anak kecil di sudut kota tersenyum manis pada raja siang. ia tak sedetik pun mengedipkan matanya. wajah lugunya membuat raja siang kembali tersenyum. apa hanya anak-anak yang berpikir mecari kebahagiaan tidak hanya dengan barang bernama uang. zaman dulu orang-orang hidup bahagia sebelum muncul makhluk bernama uang. mereka tetap hidup. bahkan hampir tak ada peperangan. apakah kita harus kembali pada zaman paleolithycum? entahlah. kenyataannya sebagian orang tergila-gila pada barang bernama uang.
awan yang selalu memerhatikan bulan dan matahari (raja siang) selalu tersenyum melihat mereka. ia tak pernah lelah karena tak ada yang menggantikannya bertugas kala siang dan malam silih berganti.
"hai, matahari kau jenuh melihat mereka?" tanya sang awan mendekati matahari yang sedang memerhatikan bumi.
"aku tidak jenuh,aku hanya heran dengan makhluk di bumi, apa yang mereka pikirkan?" jawab matahari dengan santai. awan hanya tersenyum. mereka pun kembali bertugas.
kini tugas bulan telah usai. ia harus beristirahat. raja siang menggantikannya bertugas. raja siang pun menyapa para penduduk bumi dengan senyuman hangat. seseorang mulai mengeluhkan sinar raja siang. mereka lebih menginginkan bulan yang tersenyum dingin hai! kalian tidak tahu kalau aku tidak ada kalian tidak bisa menjemur pakaian busuk kalian. gerutu sang raja siang. sebagian orang tak menginginkannya, namun banyak yang merindukan senyum hangatnya. raja siang kembali memerhatikan hirik pikuk tiap sudut kota. gila! pikirnya. terbuat dari apa otak mereka, mau saja diperbudak uang. matahari heran.
anak kecil di sudut kota tersenyum manis pada raja siang. ia tak sedetik pun mengedipkan matanya. wajah lugunya membuat raja siang kembali tersenyum. apa hanya anak-anak yang berpikir mecari kebahagiaan tidak hanya dengan barang bernama uang. zaman dulu orang-orang hidup bahagia sebelum muncul makhluk bernama uang. mereka tetap hidup. bahkan hampir tak ada peperangan. apakah kita harus kembali pada zaman paleolithycum? entahlah. kenyataannya sebagian orang tergila-gila pada barang bernama uang.
awan yang selalu memerhatikan bulan dan matahari (raja siang) selalu tersenyum melihat mereka. ia tak pernah lelah karena tak ada yang menggantikannya bertugas kala siang dan malam silih berganti.
"hai, matahari kau jenuh melihat mereka?" tanya sang awan mendekati matahari yang sedang memerhatikan bumi.
"aku tidak jenuh,aku hanya heran dengan makhluk di bumi, apa yang mereka pikirkan?" jawab matahari dengan santai. awan hanya tersenyum. mereka pun kembali bertugas.
Komentar
Posting Komentar