Ku Tunggu Kepulangan Mu di Balik Pagar
Pagi
ini Aku kembali duduk terdiam di teras rumah. Pandanganku menerawang akan
kehadirannya. Yaa.. aku selalu selalu dan selalu menanti kepulangannya. Aku
amat merindukan candanya. Tio Shandika Modjo adalah Abangku yang kini sedang
merantau ke negeri orang. Ia selalu berpindah-pindah tempat dan tak tentu
keberadaannya. Aku hanya bisa berharap ia akan segera pulang ke rumah. Aku
adalah Raisa Chantika Modjo, siswa kelas 2 SMA. Hampir setiap pagi aku duduk di
teras rumahku berharap kepulangan abangku satu-satunya yang sangat aku sayangi.
Kami hanya dua bersaudara. Usia kami terpaut cukup jauh. Aku adalah anak korban
perceraian orang tuaku. Aku tinggal hanya dengan ayahku. Ibuku pergi entah ke
mana setelah bercerai dengan ayah. Mereka bercerai saat aku berusia 2 tahun.
Aku pun tak pernah ingat wajah Ibuku dan Ayah tak pernah mau menceritakkan
tentang Ibu padaku.
Sudah dua jam aku duduk terdiam
sejak Ayah berangkat ke kantornya. Ayahku seorang pengusaha yang super sibuk. Jarang
sekali ia ada waktu untukku. Aku sangat kesepian di rumah. Untung saja ada bik
Inah yang mangasuhku dari kecil.
“Non
Raisaaaa, Non Raisaaa, sarapannya sudah siap non.” Teriak bik Inah dari dalam rumah.
Aku
tetap terdiam menatap pagar besi yang menjulang tinggi.
“Noooonnn….
“ “non Raisa sarapan dulu yuk, bik Inah
udah siapkan sarapan kesukaan non Raisa.”
Bik Inah datang menghampiriku.
“iyaa,
iyaa bik, nanti aku sarapan.” Jawabku tanpa menoleh kepadanya.
Aku
beranjak dari tempat duduk dan masuk ke dalam rumah bersama bik Inah dan
menghentikan kegiatan pagiku menunggu bang Tio.
Hari
ini Ayah pulang cepat. Aku dan Ayah akan pergi makan malam di luar rumah. Ini moment yang paling aku nantikan karena
saat seperti ini lah aku bisa bercerita banyak pada Ayah. Aku sudah bersiap-siap untuk makan malam dan
menunggu Ayah yang sedang bersiap-siap juga.
“
Ayo sayang kita berangkat, mau makan di mana kita nak?” Ujar Ayah sambil menuju
mobil.
“Aku
mau makan seafood Yah, udah lama nih gak makan seafood.” Jawabku membuka pintu
mobil.
Di
sepanjang perjalanan menuju restoran seafood langganan kami, aku dan ayah
berbincang-bincang tentang kegiatan kami hari ini. Aku sangat sayang Ayahku,
walaupun ia sangat sibuk dan jarang sekali ada waktu untukku. Sampainya di restoran,
kami memesan makanan dan minuman. Aku menceritakan banyak kegiatanku pada Ayah.
“Ayah,
apa ayah dapat kabar dari bang Tio? Aku merindukannya Yah.” Kataku pada Ayah
seusai makan.
Ayah
membelai wajahku dengan lembut.
“Sabar
sayang, bang Tio pasti akan pulang secepatnya.” Ujarnya.
Aku
hanya tersenyum kepada Ayah. Ayah membalas senyumku dengan manis. Cukup lama
aku dan Ayah berbincang-bincang di Restoran seafood itu. Setelah puas
berbincang-bincang dan makanan yang kami pesan habis, Ayah membayar bill dan
kami pulang ke rumah.
Hari ini genap 2 tahun 6 bulan Abang
pergi meninggalkan rumah. Pagi ini pun aku kembali menatap pagar rumah dan
berharap kepulangannya. Aku tak pernah mendapat kabar apapun darinya. Sejak ia
pergi dan bertengkar dengan Ayah karena berselisih paham, aku tak pernah
mendapat kabar apapun tentang keberadaannya. Ia hanya mengatakan kepadaku bahwa
ia akan pergi merantau jauh dan ia akan kembali ke rumah. Aku selalu mengingat
kata-kata yang ia ucapkan sebelum pergi dan setiap aku mengingat hal itu air
mataku jatuh membasahi pipi.
Abang
di mana kau sekarang, sedang apa, bagaimana keadaanmu? Tidakkah kau merindukan
adikmu ini. Harus ke mana aku kirim surat yang selalu ku tulis untuk mengetahui
kabarmu? Ohhh… Tuhann hanya Engkau yang tahu di mana ia, jagalah abangku. Aku
sangat menyayanginya dan aku amat sangat merindukannya. Air mata ini tak
berhenti mengalir mengingat kegiatan yang selalu aku dan bang Tio lakukan setiap hari. Ia selalu menemaniku
ke mana pun aku mau, karena ayah super sibuk tidak bisa menemani setiap saat.
Terkadang aku kesal pada ayah karena ia yang menyebabkan abang pergi dari
rumah.
Pertengkaran Ayah dan Abang malam
itu tak bisa ku lupakan. Mereka berdebat sangat hebat. Abang tidak bisa menuruti
keinginan Ayah untuk melanjutkan perusahaannya. Ia sedang fokus untuk membuka
galeri lukisannya. Ayah yang tak pernah menyetujui keinginan abang untuk
membuka galeri. Ayah nyaris menampar abang malam itu, aku mendengar perdebatan
mereka dari dalam kamar. Ketika suasana sunyi aku memberanikan diri keluar dari
kamar. Aku melihat abang masuk ke kamarnya, aku mengikuti dan berdiri di depan
kamarnya.
“Abang
mau ke mana? Ini sudah malam.” Tanyaku
Ia
memasukkan baju-baju dan alat-alat lukisnya ke dalam tas ranselnya. Aku
menghampiri dan memeluknya dari belakang. Air mataku tak berhenti mengalir saat
itu. Abang menghentikan kegiatannya dan ia membalas memelukku.
“Abang
harus pergi, Abang mau merantau yang jauh. Kamu jaga diri baik-baik ya, jangan
melawan pada Ayah. Abang akan kembali secepatnya.” Ujarnya menenangkan ku dan
ia mengecup keningku.
Ia
melepaskan pelukanku dan kembali berkemas. Aku terus menangis di sampingnya,
namun ia mengacuhkan aku. Ia berlalu di depanku dan pergi. Aku mengejarnya ke
ruang tamu tetapi ayah menghalangiku. Abang pergi tanpa pamit kepadaku. Aku
menangis sejadi-jadinya dan aku marah pada ayah karena tak mencegah abang
pergi. Bayang-bayang itu terkadang membuatku kesal pada ayah.
Aku menyudahkan lamunanku di teras pagi ini,
ketika aku ingin masuk ke dalam rumah pintu pagar terbuka, pak pos mengantar
sebuah surat dan paket ke rumah. Aku menyambut pak pos dengan riang gembira.
Saat aku melihat pengirim paket dan surat tersebut, aku tak bisa berkata
apa-apa. Aku sangat senang dan hamper saja memeluk pak pos karena terlalu
gembira.
Bang
Tio, bang Tio, bang Tio kirim suraaaatt. Jeritan hatiku saat itu. Aku
mengucapkan terima kasih pada pak pos pengantar. Aku bergegas ke kamar untuk
membaca surat dan membuka paket yang dikirimkan.
Assalamualaikum
adik manisku,
Bagaimana kabar adik abang yang
bawel ini, masih manjakah kayak dulu? Bagaimana sekolahmu? Sudah lama ya kita
gak ketemu, kangen jailin kamu sampe ngambek, nonton dvd dan semua kegiatan
kita.
Oya, bagaimana kabar ayah?
Sampaikan maaf abang pada ayah ya, abang belum bisa pulang. Kamu juga gak perlu
khawatir abang di sini baik-baik aja kok. Abang akan pulang kalau urusan abang
udah selesai semuaya adik manis, hehehehe……
Jaga diri baik-baik ya, jangan
nakal, belajar yang giat.
Kecup sayang dari abangmu
Tio
Shandika Modjo
Wassalam.
Tak
terasa air mataku kembali membasahi pipi, aku juga merindukan mu bang. Segera
ku buka paket yang dikirimkan bang Tio. Bang Tio mengirimkan lukisan kami
sekeluarga saat aku masih SMP. Aku tersenyum manis dan aku meminta bik inah
memasangnya di ruang keluarga. Selain surat dan lukisan, bang Tio juga
mengirimkan foto-fotonya dan waw! Foto gallery miliknya. Ia sudah punya gallery
dan harus aku beri tahu ayah.
Aku
menanti ayah pulang di ruang tamu, ia pulang malam hari ini. Aku sempat
tertidur menunggunya karena malam sudah mulai larut. Saat bunyi klakson mobil
ayah terdengar, aku segera keluar dan menghampiri ayah. Aku ceritakan tentang
surat, lukisan, dan tentu saja gallery milik bang Tio. Ayah memelukku.
“Ayah
merasa sangat bersalah pada abangmu.” Mata ayah pun berkaca-kaca.
Aku
dan ayah masuk ke dalam rumah. Ku antar ayah melihat lukisan bang Tio. Ayah
kembali memelukku.
“semoga
abangmu cepat pulang ya.” Ayah mengecup keningku dan pergi ke kamar untuk
istirahat. Aku pun kembali ke kamar dan
tidur.
Seminggu
setelah aku menerima surat bang Tio, aku pun segera membalas surat dari abangku
tersayang. Abang yang kurindukan. Aku meneceritakan bagaimana keadaanku
sekarang. Di akhir surat aku mengatakan bahwa aku ingin ia kembali. Namun,
sudah sebulan saat aku mengirim balasan. Abang tak pernah membalas suratku. Ku
kembali terdiam menunggu. Menunggu dibalik pagar.
Bersambung…
Komentar
Posting Komentar