Senyum Maut
kembali menyapa dengan tuturan lembut yang memabukanku.
senyum yang terbias samar kurasakan lagi.
diam, berbisik pada awan-awan yang menari di lingkar khatulistiwa.
kau hadirkan canda yang menusuk jantung hingga darah yang mengalir terhenti.
aku memucat di balik senyum ketir yang ku sunggingkan untuk menyambut wajah biasmu
kau, kau hadir lagi di sini!
kau yang merobek hati dan mengoyak hingga hancur tak bersisa
bagai onggokan daging yang telah menjadi sampah dan busuk.
kau dengan senyum maut itu hadir kembali.
apa kau belum puas mencabik hati dan sesukamu pergi meninggalkan luka yang abadi?
aku memucat di balik senyum ketir
kehadiranmu, pemilik senyum maut.
aku kalah!
kau menghadirkan lagi, luka yang berangsur baik dengan perban yang tak karuan di sisinya.
kau membuat luka ini kembali basah dengan kehadiran senyum mautmu.
-Pemimpi Kecil-
Tangerang, 1 April 2015
Komentar
Posting Komentar