Kali ini untukmu
Hai, Yah.
Hari ini aku beranikan diri menyapamu melalui surat ini.
Yah, aku minta maaf aku menjadi anak nakal setelah kepergian, ibu.
Yah, aku minta maaf karena telah menjadi anak durhakamu.
Hatiku mungkin pernah membencimu, menyalahkanmu atas kepergian ibu. Yah, kau tak pernah pedulikan semua rasa itu. Kau tetap menyayangiku, kau tetap berjuang sendiri membesarkan anak-anakmu, kau tetap menjadi ayah terhebat untuk anak-anakmu. Yah, aku terlambat. Aku terlambat mendekatkan diriku padamu. Aku selalu menutup diriku setelah kepergian ibu. Menutup diri dari keluarga dan menjadi anak nakal. Aku terbuka pada teman-temanku, aku bercerita melalui media sosial, aku terlalu banyak mengeluhkan hidupku. Saat aku mulai membuka diri, saat aku mulai memudarkan rasa benciku. Saat kita mulai mejadi sosok ayah dan anak. Kau pergi. Kau pergi begitu mendadak. Begitu cepat. Truk besar itu! Truk besar itu membawamu tak kembali, Yah! Aku sangat terkejut. Aku paling menyesal. Aku menghukum diriku sendiri. Aku sempat menyalahkan Tuhan, Yah. Yah, dua tahun sudah kau menyusul ibu ke tempatNya. Aku juga sangat merindukanmu, yah. Aku menyayangimu. Ini surat pertamaku untukmu. Aku akan kirim surat-surat berikutnya.
Dari anak durhakamu yang menyesal.
Komentar
Posting Komentar