Kembali Ringkih
Ini suratku, entah akan berapa surat akan aku kirim padamu, Bu. Aku tidak tahu harus bercerita pada siapa. Mereka tidak sepertimu. Mereka hanya singgah sementara. Bahkan, mereka hanya sekadar ingin tahu. Bukan benar-benar peduli. Aku tahu tak pantas menuntut perhatian siapa pun. Namun, bukan kah pesakit butuh semangat dari sekitarnya, Bu?
Aku berjuang sendiri, Bu. Melawan semuanya. Meraih semuanya. Tak ada yang merawatku saat sakit saat Ibu sudah tak lagi di sini. Aku tak mau menyalahkan Tuhan lagi. Aku tahu ini karena kasih sayangNya padamu dan padaku, Bu. Bu, katakan pada Tuhan, aku masih ingin hidup lebih lama. Membahagiakan mereka. Membahagiakan orang-orang yang pura-pura peduli padaku, mungkin.
Bu, pikiranku kacau saat sakit ini menyerang. Aku tak tahan melawannya sendirian, tetapi aku ingin hidup lebih lama. Aku sedang ingin berkarya. Aku ingin merajut cinta pada Tuhanku. Aku ingin menyiapkan istana di SurgaNya. Saat ini aku masih dipenuhi dosa, Bu.
Oiyaa! Bu, aku rindu juga ayah. Aku tak pernah berbagi cerita padanya, sebab itu aku tak mengirim surat padanya. Apa ia merindukan anak bengalnya ini, Bu? Bu, apa ayah baik-baik saja? Katakan padanya Bu, aku rindu. Walaupun, saat ia masih ada aku hanya bisa bertengkar dengannya. Aku terlalu keras pada pendirianku. Bu, apa ayah bercerita padamu tentang anak-anaknya saat bertemu denganmu?
Bu, aku tahu surat ini tak akan pernah sampai dan kau baca. Walaupun ku kirim beribu-ribu surat untukmu. Surat ini hanya khayalan anak pesakit. Berharap kau balas dengan kata-kata bijak yang meneduhkan dan menguatkan. Lagi-lagi hanya khayalan anak pesakit.
Bu, kupikir aku sudah berangsur normal. Ternyata, aku kembali ringkih diserang si lambung dan pikiran itu datang lagi, Bu. Pikiran tentang kematian di saat sepiku. Aku berjuang, Bu melawan pikiranku sendiri.
Maafkan aku, mengecewakanmu, Bu.
Dari anakmu yang kembali ringkih.
Jarang-jarang nemu surat puitis gini, hebat kak :)
BalasHapus