cerpen anak


Aku Sayang Ibuku
            Hari itu libur sekolah telah tiba, ia sedang berlibur di rumah sepupunya. Vivi sedang menikmati lontong sayur kesukaannya. Ia membeli sarapan bersama kakak sepupunya, Uni Febby. Uni adalah sapaan kakak dari bahasa Minang. Tak berapa lama tante Iman, Tantenya Vivi datang dengan tergesa-gesa dan wajah sedih.
            “Ibunya Vivi meninggal.” Ujarnya.
            “Innalillahi, kapan?” Ucap sepupunya.
Vivi masih saja menikmati lontong sayurnya. Dia tidak memahami yang sedang dibicarakan tante dan sepupunya itu. Sepupu Vivi kemudian melihat ke arahnya. Ia menatap dengan wajah sedih dan kasihan. Vivi masih kelas 4 SD, ia mempunyai kakak yang juga baru kelas 6 SD, sedangkan adiknya masih beusia 3 tahun. Kemudian dengan suara perlahan dan lembut uni Febby berkata,
            “Vi, Ibu meninggal.” Ucap uni Febby dengan suara lirih.
            Vivi hanya terdiam sesaat. Dia menatap dalam mata sepupunya. Ia seperti orang bingung, ia bingung harus menjawab apa atas ucapan sepupunya. Ia masih mengunyah lontong sayur yang tersisa di mulutnya.
            “Ibu Vivi meninggal, Ibu sudah tidak ada.” Ujar sepupunya lagi, sambil menatap dalam mata Vivi.
            “Ibu kenapa? Ibu kenapa Meninggal?” Vivi mulai berani bertanya.
            “Kita pulang dulu ya, nanti Uni kasih tahu, yuk pulang!” ajak sepupunya.
            Vivi menuruti kata-kata sepupunya. Ia pulang dengan wajah sedih dan bingung. Apa yang terjadi dengan ibunya. Pikirnya dalam hati. Tidak ada setetes air mata pun yang keluar dari matanya saat itu. Ia sedih dan tampak lesu.
Vivi hidup terpisah dari Ibu dan Ayahnya. Ia pindah sekolah di Solok, Sumatera Barat dan tinggal bersama kakak dari ibunya. Sedangkan ayahnya, tinggal di Tangerang seorang diri. Vivi dan kakak sulungnaya Resi tinggal di Solok dan sekolah disana. Ibu dan adiknya berpindah-pindah tempat di rumah saudara di Sumatera Barat.
Mereka pindah ke Sumatera Barat karena keinginan ibunya. Beberapa bulan di sana ibu Vivi jatuh sakit dan tidak bisa berjalan lagi. Saat ibunya sedang tinggal bersamanya Vivi selalu membantu dan menemani ibunya, ia sangat menyayangi ibunya. Terkadang ia tertidur di samping ibunya, walaupun hanya beralaskan tikar. Ia tak pernah membantah saat disuruh ibunya. Namun, ketika ayahnya datang saat libur kenaikan kelas ia diajak untuk tinggal di rumah sepupunya, uni Febby. Ia sangat senang sekali karena uni Febby sering mengajaknya jalan-jalan.
Tetapi, tantenya (kakak dari ibunya) tidak mengizinkan Vivi pergi dan menginap di rumah sepupunya itu. Keadaan ibu Vivi memburuk. Nafasnya sudah tidak teratur. Ibunya sulit bernafas. Vivi menangis karena dimarahi dan tidak diizinkan pergi. Ia memeluk ibunya sambil menangis.
“Pergilah, nak. Jangan nangis lagi ya, sayang, anak ibu kan pintar.” Ibu mengusap air mata dan menenagkan Vivi.
“siap-siaplah sana, ganti baju ya, jangan nangis lagi.” Tambahnya.
            Vivi mengganti pakaiannya. Ia berpamitan kepada ibunya dan menghampiri ayahnya yang sudah menunggu.
            Ia menginap di rumah sepupunya selama beberapa hari dan pagi ini ia dikejutkan dengan berita yang sangat tidak ia sangka. Ia bingung dan tidak percaya ibu yang sangat ia sayangi sudah tidak ada. Ia hanya tertunduk lesu sepanjang perjalanan pulang ke rumah sepupunya.
            Sampai di rumah sepupunya ia melihat kakaknya menagis terisak-isak. Saudara-saudaranya yang lain pun menenangkan kakaknya dan beberapa yang lainnya menangis. Saat itu semua keluarga ayah sedan berkumpul dan berlibur di sana. Vivi pun mulai ikut menangis. Melihat hal itu, uni Febby pun mengajak Vivi pergi mencari bunga untuk ditaburkan di pemakaman ibunya. Vivi menghapus ai matanya dan bergegas mengikuti sepupunya. Ia terlihat agak senang. Karena, ia berpikir akan menghias makam ibunya. Ia tidak sempat merawat dan berada di samping ibunya di saat-saat terakhir.
Pulang dari mencari bunga ia berganti pakaian yang lebih rapi. Setelah selesai berganti pakaian Vivi dan saudara-saudaranya berangkat menuju rumah kakak ibunya. Karena ibunya akan dimakamkan di sekitar rumah tantenya itu.
Tangis pun pecah saat tiba di rumah duka. Kakaknya tidak dapat lagi membendung tangisnya, Vivi hanya bisa menangis di balik punggung ayahnya karena ia tak mampu berkata-kata, serta tak mampu menatap ibunya yang sudah tidur begitu lelap dan tak akan bangun lagi selamanya. Sedangkan adiknya, Dani. Ia hanya terdiam kemudian sepupu-sepupu yang lain mengajaknya bermain.
Saat ibunya dimandikan, Vivi, ayah, dan kakaknya ikut memandikan. Vivi menatap dalam-dalam wajah ibunya. Ia masih berharap bahwa ini hanya mimpi dan ibunya membuka kembali matanya. Namun sayang, itu hanyalah harapan yang sia-sia. Ibunya kini sudah selesai dimakamkan dan ia harus menjalani kehidupan baru tanpa ibunya. Saudara-saudaranya pun tak henti menghiburnya selesai pemakaman tersebut. Kasih seorang anak dan ibu tidak akan putus walau terpisah jarak bahkan dunia.

Komentar

Postingan Populer