dua dara

"Heii, apa yang kau lihat? Kau mengagumiku"
"Tidak, aku tidak sekadar mengagumimu, aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku"
"Bagaimana dengan dara yg kau cintai juga? Kau yakin mencintaiku sepenuh hati?"
Diam. Tertunduk. Mukanya memerah. Aku tahu, lelakiku benar-benar gundah. Aku mencintainya. Sangat mencintainya dan dia adalah bagian dari mimpiku. Dia memelukku dengan hangat. Namun, aku tetap merasa dingin, tak sehangat dekapan biasanya. Air mata mulai mengalir di pipiku. Aku tak pernah menduga ini terjadi.
"Maaf, tapi aku benar-benar mencintaimu, inilah kebodohanku!" Ujarnya lirih. Air matanya pun mengalir.
Air mata ini tak dibuatnya. Ia tidak berpura-pura, aku tahu itu. Aku balas mendekapnya namun hanya sekadarnya.
"Aku merasa kau mulai menjauh, kau begitu dingin." Lelakiku menatap ku dengan wajah penuh harap.
"Kau mencintai dua dara dalam hatimu, aku tak bisa memaksa diri untuk menerima ini. Aku ingin menjadi satu-satunya milikmu." Derai air mataku kian deras. Aku tak sanggup lagi menantap mata indahnya. Ia mencengkramku demikian keras.
"Ya, ini kesalahanku, ini kebodohan terbesar yang aku lakukan, tapi aku benar-benar sangat menyayangimu, kau rasakan itu kan? Tak ada kepura-puran dalam mencintaimu."
Ia tak henti meyakinkan aku. Aku tidak bisa. Walaupun aku mencintainya. Aku tetap tidak bisa menerimanya. Aku bangkit dan mengambil tasku. Lelakiku tertunduk lesu.
"Biar ku antarkan kau pulang, aku khawatir padamu." Dia menghentikan langkahku. Aku hanya tersenyum.
"Aku tak ingin memiliki lelaki yang mempunyai dua dara di hatinya." Aku pun berlalu.
Sekian.

Komentar

Postingan Populer